Login

Login

Don't You have account?

Sign Up
Veco Indonesia
HIVOS
pemerintah perlu dukung sistem pangan lokal sebagai dasar kedaulatan pangan PDF Print E-mail
( 3 Votes )
Share Link: Share Link: Bookmark Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Reddit Ma.gnolia Technorati Stumble Upon

Salah satu penyebab rentannya kedaulatan pangan Indonesia adalah diabaikannya potensi pangan lokal yang dikembangkan masyarakat.  Pemenuhan kebutuhan pangan yang berorientasi impor, seperti gandum dan bahkan beras membuat ketergantungan. Hal ini disampaikan pada Semiloka Hasil Riset Sistem Pangan Masyarakat, di Jogjakarta  Rabu (8/10/2009), untuk menyambut Hari Pangan  Sedunia.

Padahal pangan lokal memiliki potensi besar untuk mengatasi masalah krisis pangan yang kerap terjadi di Indonesia Sayangnya hingga saat ini, pengembangan pangan lokal masih diabaikan. ”Pangan masih diidentikkan dengan beras, padahal pertanian padi sudah semakin sulit, baik karena konversi lahan maupun tekanan perubahan iklim ditambah lagi arah kebijakan pertanian pangan yang tidak jelas .”Jelas Witoro, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan.

Disisi lain, pola konsumsi masyarakat juga perlu diubah agar kembali mencintai pangan lokal. ”Kami melihat, tanpa ada perubahan kebiasaan di tingkat pola konsumsi lokal, akan semakin sulit bagi masyarakat desa untuk mencapai tingkat kesejahteraan.” tambah Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional Aliansi untuk  Desa Sejahtera.  Saat ini, pendapatan dari produk pertanian semakin kecil jika dibandingkan dengan harga kebutuhan lain, termasuk pangan pabrikan, akibatnya pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi semakin besar tambahnya lagi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Konsumen Jogjakarta menunjukkan bahwa di sejumlah Desa di Kabupaten Gunung Kidul, pengeluaran untuk pangan menempati urutan pertama, seperti di Desa Mulo, Wonosari. “Bahkan, terkadang masyarakat harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan pangannya, sehingga memang perlu ada pengelolaan pengeluaran berdasarkan potensi pangan lokal yang mereka miliki.” Jelas Anna Susilaningtyas, S.Sos dari YLK. 

Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito dari Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM, yang menjadi salah satu pembicara menyampaikan tingkat konsumsi beras, orang Indonesia  sebesar 149kg/kapita, jauh lebih tinggi dibandingakan orang usia lainnya. “Jepang hanya 60kg/kapita/tahun, Thailand 80kg, dan Malaysia 90kg/kapita.” tambahnya. Padahal konsumsi beras seharusnya dikurangi karena produksi juga semakin terbatas ”tegasnya lagi