Publikasi

Download

Profile

KRKP
Anggota
Mitra

Login

Login

Don't You have account?

Sign Up
Veco Indonesia
HIVOS
Pertanian Berkelanjutan
Duka Berulang bagi Petani Kerawang PDF Print E-mail
( 1 Vote )

Duka Berulang bagi Petani Karawang

Kompas, Kamis, 25 Maret 2010 | 02:59 WIB

Peringatan waspada banjir dari corong masjid pada Sabtu (20/3) malam membuat Acih (38) mendadak gugup. Hatinya cemas. Pikiran Acih tak karuan antara percaya dan tidak. Seumur-umur, dalam hidupnya, baru kali ini ia mendengar imbauan semacam itu.

”Awas banjir, jangan tidur terlalu nyenyak malam ini. Hujan masih mengguyur di hulu,” ujar Acih, warga Desa Curug, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menirukan suara dari corong masjid.

Suasana semakin panik ketika beberapa tetangga menyebutkan Bendungan Jatiluhur mau jebol. Perasaannya campur aduk antara tidak percaya, takut, serta khawatir jiwa dan padi siap panen di lahan seluas 3.000 meter persegi miliknya tersapu air.

Sawah milik Acih memang tak begitu luas. Namun, dari dua petak lahan itulah keluarganya menggantungkan hidup. Berada sekitar 400 meter dari tepian Citarum, persawahan itu yang pertama kali terendam jika sungai meluap, sebelum menyentuh permukiman.

Minggu pagi, ia bergegas ke sawah. Kekhawatiran Acih benar, padi varietas ciherang usia 90 hari miliknya tergenang air setinggi 50-60 sentimeter. Sebagian rumpun rebah dan bulir padi terbenam air. Belasan tahun menggarap lahan itu, baru kali ini tergenang air.

Genangan air memperburuk kondisi tanaman yang sebelumnya telah rusak sebagian karena serangan hama. Hasil panen pun anjlok, dari biasanya 3,2 ton gabah kering panen (GKP) menjadi 2,5 ton GKP. Tak hanya itu, harga jual gabah Acih anjlok Rp 2.000 per kilogram (kg) GKP saat sebagian petani lainnya mampu menjual hasil panennya hingga Rp 2.800 per kg GKP.

Nasib serupa dialami Karwan (57), petani di Desa Mulyasejati, Kecamatan Ciampel. Hasil panen dari 2.700 meter persegi sawah garapannya turun dari 1,7 ton GKP menjadi 1 ton GKP. Banyak bulir padi menjadi hampa, busuk, dan patah sehingga harga jualnya tidak optimal. Tengkulak enggan menawarnya dengan harga tinggi.

Acih dan Karwan kehilangan potensi pendapatan hingga lebih dari Rp 1 juta akibat banjir. Keduanya juga terancam kesulitan modal untuk musim tanam berikutnya. Selain pendapatan berkurang, ia pun masih harus menanggung utang pupuk dan pestisida hingga ratusan ribu rupiah dari seorang rentenir yang rajin berkeliling menyambangi petani.

Berulang

Kisah Acih dan Karwan yang mewakili petani di Karawang bagian selatan mengulang duka petani pesisir utara sepanjang Januari-Februari lalu. Banjir akibat luapan saluran-saluran pembuangan yang melanda 12.461 hektar sawah di sembilan kecamatan ketika itu mengakibatkan 6.346 hektar padi puso. Ribuan petani terpaksa menanam ulang dan kehilangan waktu akibat mundurnya jadwal tanam 1-2 bulan.

Pertengahan Maret ini, giliran petani di daerah aliran Sungai Citarum yang menderita akibat banjir. Berdasarkan data Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Karawang, hingga Rabu kemarin, tercatat 842 hektar padi usia 1-100 hari tergenang air selama 4-5 hari.

Ancaman puso diperkirakan lebih dari 50 persen, terutama padi usia 1-10 yang baru dipindah dari persemaian, seperti di Kecamatan Karawang Barat, Teluk Jambe Timur, dan Batujaya. Di Kecamatan Klari, Ciampel, Teluk Jambe Barat, dan Pakisjaya, usia padi telah mencapai 20-100 hari.

Kepala Dinas Pertanian Karawang Nahrowi Muhamad Nur menyebutkan, meski luas genangan air kali ini relatif kecil dibandingkan dengan bulan lalu, banjir berpengaruh pada mundurnya jadwal tanam di sebagian persawahan hingga lebih dari dua bulan. Target produksi 1,37 juta ton GKP pada tahun ini diperkirakan juga akan ikut terpengaruh meski pemerintah setempat optimistis target tercapai hingga sembilan bulan mendatang.

Pemerintah boleh saja optimistis, tetapi nasib Acih, Karwan, dan ribuan petani lain di Karawang tetap saja menderita akibat banjir. Kisah duka selalu berulang bagi petani di daerah lumbung padi ini.

(Mukhamad Kurniawan)

 
Sawah Puso Meluas PDF Print E-mail
( 0 Votes )

Sawah Puso Meluas

Banjir Genangi Sawah di Sentra Produksi

Kamis, 25 Maret 2010 | 04:39 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Tanaman padi di Jawa Barat yang gagal panen atau puso kian meluas. Hingga pertengahan Maret, luas sawah yang terkena banjir 12.438 hektar dan 2.899 hektar di antaranya puso. Pengadaan pangan terancam karena banjir mulai merendam daerah-daerah sentra produksi.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jabar, hingga Rabu (24/3) genangan air paling luas melanda wilayah pertanian Kabupaten Karawang, yakni 3.970 hektar, dan 1.185 hektar di antaranya puso. Berikutnya, dari 2.434 hektar di Kabupaten Bandung yang terkena banjir, seluas 892 hektar di antaranya gagal panen.

Banjir besar juga melanda Kabupaten Bekasi dan menggenangi 2.386 hektar sawah. Dari luas itu, puso terjadi di 238 hektar sawah. Selain akibat banjir, sawah puso di Jabar juga terjadi akibat longsor, yakni 576 hektar.

Kondisi puso meningkat dibandingkan pada pertengahan Februari lalu saat lahan terkena banjir baru mencapai 8.775 hektar dengan 1.761 hektar di antaranya puso.

Kondisi ini, menurut Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Jabar Oo Sutisna, cukup mengkhawatirkan. Apalagi, puso banyak terjadi di sentra-sentra produksi padi.

Undang Sudarma (57), petani Desa Rancaekek Wetan, Kabupaten Bandung, Rabu, mengatakan, panen padi di lahan seluas 1,5 hektar miliknya turun. Jika tahun 2009 ia bisa memanen hingga 8,5 ton, kini hasil panennya hanya sekitar 7 ton. ”Produksi berkurang karena sawah sempat tergenang banjir. Walaupun ditanami ulang, hasilnya tidak memuaskan,” ujar Undang.

Kualitas turun

Menanggapi hal itu, Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Entang Sastraatmaja mengatakan, curah hujan yang tinggi juga menyebabkan kualitas gabah rendah karena kadar airnya berlebihan. Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga optimalisasi industri pascapanen.

Menurut Entang, optimalisasi pascapanen bisa menjadi solusi penurunan tingkat kehilangan beras yang saat ini masih sekitar 16 persen. Penurunan tingkat kehilangan beras juga bisa menjadi antisipasi pemenuhan target produksi apabila kondisi cuaca benar-benar menurunkan produksi padi di Jabar. ”Anomali cuaca sekarang sulit diprediksi. Ribuan hektar lahan terkena banjir, belum lagi potensi panas yang datang lebih awal,” katanya.

Padahal, stok beras Bulog pun kian menipis. Serapan sedikit karena banyak terjadi gagal panen. Hingga kemarin serapan beras Perum Bulog Divisi Regional Jabar baru 17.000 ton. Ini baru sekitar 3,78 persen dari target tahun ini sebesar 450.000 ton.

Kepala Perum Bulog Divre Jabar Abdul Karim mengaku, stok beras di seluruh gudang di Jabar tinggal 136.000 ton atau hanya untuk 3,5 bulan ke depan. Ini adalah ambang batas stok minimal beras Bulog. (GRE)

 
Kondisi Pertanian Mengkhawatirkan PDF Print E-mail
( 0 Votes )

Kondisi Pertanian Mengkhawatirkan

Selasa, 23 Maret 2010 | 04:06 WIB

 Cirebon, Kompas - Kondisi pertanian tanaman pangan tahun ini cenderung mengkhawatirkan karena menurut perkiraan musim kemarau akan datang lebih cepat, yakni pada awal April. Padahal, sebagian besar petani belum panen.

Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir di Cirebon, Senin (22/3), mengatakan, berdasarkan ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini dimulai awal April. Padahal, musim tanam 2009/2010 terlambat satu-dua bulan sehingga panen raya pada musim tanam utama (periode November-Maret) mundur menjadi April-Mei.

”Akibatnya, musim tanam kedua baru dimulai Mei-Juni ketika stok air mulai sedikit. Hingga akhir Maret, luas sawah yang telah panen kurang dari 20 persen. Di Jawa Barat, misalnya, baru 314.000 hektar sawah yang panen dari perkiraan luas panen 1.855.609 hektar. Seharusnya, panen raya di Jabar terjadi Maret-April,” tutur Winarno.

Kondisi itu diperburuk dengan ramalan produksi gabah kering giling (GKG) tahun ini hanya naik 0,88 persen, padahal targetnya 3,22 persen. Ramalan Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi padi 2010 hanya 64,90 juta ton, sementara target pemerintah 66,68 juta ton, dengan perhitungan posisi ketersediaan stok pangan Indonesia aman.

Winarno menambahkan, kebutuhan beras yang selalu lebih tinggi tidak hanya terjadi di Indonesia. Contohnya China, kebutuhannya mencapai 479 juta ton, sedangkan produksinya hanya 263 ton. Demikian pula India, produksinya hanya 222 juta ton, sedangkan kebutuhan warganya 267 juta ton. Dipastikan permintaan beras dari luar negeri ke Indonesia pun meningkat.

Ekspor ilegal

Winarno khawatir terjadinya penjualan ekspor beras ilegal. ”Sudah ada koperasi di India yang ingin membeli beras Indonesia sebanyak 240.000 ton. Dari Singapura juga ada. Kita tak bisa melarang ekspor, tetapi mulai sekarang kita harus menghitung berapa kebutuhan dan kemampuan produksi beras di dalam negeri,” kata Winarno.

Melihat kemungkinan musim kemarau datang lebih cepat, Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jabar berencana menyerap sebanyak-banyaknya gabah dan beras petani pada musim panen ini. Kepala Bulog Divre Jabar Abdul Karim mengatakan, sedikitnya 200.000 ton dari target 450.000 ton setara beras harus terserap akhir panen raya musim rendeng ini. (tht)

 

 
64 Persen Lahan Pertanian Sakit PDF Print E-mail
( 0 Votes )

64 Persen Lahan Pertanian 'Sakit'

Republika, Ahad, 14 Maret 2010, 18:24 WIB

 

JAKARTAGuru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran-Bandung, Tualar Simarmata, mengungkapkan, lahan pertanian di Indonesia, khususnya persawahan, sedang mengalami sakit yang luar biasa. Sebanyak 64 persen dari total sekitar 7,7 juta hektare lahan sawah yang ada, kini kekurangan unsur hara yang sulit diobati.

Ini setara dengan lima juta hektare lahan sawah, kata Tualar Simarmata kepada Republika, Ahad (14/3). Dia melanjutkan, Indonesia yang sering dibayangkan sebagai negeri yang subur kini bukanlah negara yang memiliki tanah pertanian yang baik. Kandungan zat organik di tanah-tanah persawahan umumnya berada pada level di bawah dua persen. Padahal, idealnya kandungan zat organik dalam tanah haruslah di atas lima persen.

Menurut Tualar Simarmata, terus menyusutnya unsur hara di tanah persawahan tak lain diakibatkan oleh penggunaan pupuk kimia (anorganik) yang berlebihan. Petani tidak didorong untuk menggunakan pupuk organik semacam kompos dari jerami untuk menyelamatkan struktur tanah sawah mereka.

Jika ini dibiarkan, stabilitas produksi beras nasional akan terancam. Lambat laun tanah akan semakin rusak dan akhirnya dijual petani karena sudah tidak produktif lagi, papar Tualar Simarmata. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan lahan persawahan adalah dengan mengintensifkan penggunaan pupuk organik atau setidaknya pemakaian pupuk berimbang.

 

Red: irf

 
Swasembada Benih Masih Jauh PDF Print E-mail
( 1 Vote )

Swasembada Benih Masih Jauh

Senin, 1 Februari 2010 | 15:25 WIB

Bantul, Kompas - Produksi benih padi di Bantul baru memenuhi 50 persen kebutuhan. Sisanya masih mengandalkan benih pabrikan yang harganya jauh lebih mahal. Tahun ini, Pemerintah Kabupetan Bantul bertekad mendongkrak produksi benih hingga mencapai 70 persen.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto, Sabtu (30/1), mengatakan, total kebutuhan benih padi di Bantul mencapai 700 ton per tahun. Tahun lalu, produksi benih baru 350 ton. "Produksi benih akan terus didongkrak sampai tercapai kondisi swasembada," katanya.

Saat ini ada 16 kelompok petani yang mengembangkan budidaya benih padi pada lahan seluas 643 hektar. Benih dibeli Pemkab Bantul melalui Balai Benih Barongan seharga Rp 3.050 per kg, jauh di atas harga gabah konsumsi, yakni Rp 2.800 untuk gabah kering panen (GKP).

Tawaran harga ini membuat pemkab yakin swasembada benih bisa terwujud. Tihar, Ketua Kelompok Ngudi Makmur di Dusun Ponggok II Desa Trimulyo, Jetis, mengatakan, kelompoknya mengembangkan benih jenis pepe di lahan 3 hektar. Setelah dipanen, hasilnya 16 ton dan bisa dimanfaatkan untuk 640 hektar lahan sawah.

"Hasilnya cukup menggembirakan. Produktivitasnya sekitar 9,12 ton per hektar, lebih tinggi dari produktivitas padi konsumsi, yakni 7,6 hektar. Kondisi ini membuat semakin banyak petani bergabung mengembangkan benih padi," katanya.

Menurut Kepala Balai Benih Barongan Budi Santosa, jumlah kelompok tani yang mengembangkan benih terus bertambah. Bila tahun 2008 baru tercatat sembilan kelompok, tahun 2009 naik menjadi 16 kelompok.

Produksi benih milik kelompok tani, lanjut Budi, semuanya akan dibeli Balai Benih Barongan seharga Rp 3.050 per kg. Benih itu lalu dijual kembali ke petani seharga Rp 5.000 per kg, sedangkan harga benih di pasar Rp 6.000 per kg.

Ia menambahkan, saat ini sekitar 30 persen petani yang menggunakan benih padi tidak bersertifikat. Mereka memanfaatkan benih yang diambil dari padi konsumsi sehingga kualitas dan hasil panen tidak bagus. (ENY)

 
Page 1 of 2